Penganiayaan anak didefenisikan sebagai “tingkah laku
terhadap orang lain yang (a) diluar norma tingkah laku, dan (b) membawa resiko
yang besar, yang menyebabkan kehancuran fisik dan emosi”.
Perbuatan-perbuatan dan kelalaian ini dapat
disengaja atau tidak disengaja.
SIAPA YANG DISIKSA
ü Anak yang dipandang sebagai
sulit, buruk, mementingkan diri senidri atau sulit diatur,
ü Bayi dan anak-anak dengan
fisik, mental khusus atau ketidakmampuan emosional.
ü Anak yang menunjukkan
sikap dan tingkah laku dimana orang tua tidak mau mengakui dalam diri mereka
sendiri atau anak yang sering menimbulkan kemarahan orang tua.
SIAPAKAN YANG MENYIKSA
ü Hamper 91 % dilaporkan
bahwa penyiksa anak adalah orang tua atau saudara dari anak-anak.
ü Kekerasan tadi banyak
ditemukan pada keluarga muda.
ü Lebih banyak dari
keluarga miskin.
ü Lebih banyak pada
kelompok kerja yang lebih rendah.
ü Lebih banyak pada
keluarga yang penganggur dan pekerja paruh waktu.
ü Lebih banyak di kota dari
pada di desa.
Kemp and Kemp (1978)
Orang tua yang berpotensi
menyiksa anaknya adalah gabungan antara keterampilan yang rendah,
harapan-harapan yang tidak realistis, anak yang dilihat sebagai “sulit” atau
“berbeda”, krisis pribadi atau financial dan lingkungan yang tidak mendukung
dan tidak menawarkan apa-apa.
AKIBAT DARI
PENYIKSAAN TERHADAP ANAK
ü Mengakibatkan gangguan penyesuaian terhadap lingkungan
dan kelainan perilaku.
ü Ketika dewasa dapat mempengaruhi keseimbangan
emosional.
ü Dapat menyebabkan anak-anak berjalan tanpa konsep
karena tidak pernah memperoleh mekanisme interaksi dari orang tuanya.
ü Menyebabkan anak trauma, Karena tidak jarang
pengalaman kekerasan atau penyiksaan tersebut bersifat menetap.
ü 10 persen korban penyiksaan seksual memperoleh
pengalaman buruk tersebut berasal dari orang-orang terdekatnya, yang seharusnya
menjadi pelindung dan pembimbingnya.
PENYIKSAAN FISIK
Penyiksaan fisik dapat ringan atau berat, dan tindakan kekerasan yang
sama dapat mengakibatkan luka yang berbeda.
Bentuk
penyiksaan :
ü Pukulan-pukulan
ü Memukul
dengan benda keras
ü Membakar
ü Meracun
ü Menenggelamkan
ü Mencekik
ü Menikam
ü Tidak
diberi makan
ü Menampar,
dan
ü Memasukkan
ke dalam air panas
Akibar dari bentuk penyiksaan diatas, adalah
ü Luka
ringan
ü Lukan
bakar
ü Luka
patah tulan
ü Memar
ü Cacat
ü ataupun
dapat mengakibatkan kematian
PENYIKSAAN
EMOSIONAL
NRC, 1903, mempersoalkan bahwa semua anak yang disiksa secara fisik dan
dilupakan, secara emosioanal juga dianiaya. Karena penyiksaan emosional atau
psikis tidak meninggalkan tanda pada fisik.
Bentuk
penyiksaan emosional :
ü Mencemooh
ü Merendahkan maratabat dan mencemarkan nama baik,
seperti ucapan ‘bodoh’ kepada anak
ü Hukuman
dengan menakuti
ü Ancaman
untuk di buang
ü Disekap dalam kamar mandi atau gudang
PENYIKSAAN SEKSUAL
Penyiksaan seksual ini didefenisikan sebagai “keterlibatan dalam
kegiatan seksual pada anak yang belum dapat mandiri, belum matang dalam perkembangan
dimana mereka belum memahami sepenuhnya kaidah social yang berlak, sehingga
tidak dapat melaporkan penyiksaan secara khusus dan itu perlanggaran yang tabu
di masyarakat”.
Bentuk
penyiksaan seksual :
ü Mencoba
atau benar-benar besetubuh
ü Sodomi
ü Mencoba
atau benar-benar memperkosa
ü Mempermainkan
organ vital
Akibat dari
penyiksaan seksual adalah
ü Anak
sering terganggu secara mental
ü Mempunyai
penyakit mental
ü Mempunyai
penyimpangan kepribadian ganda
ü Mengakibatkan trauma psikologis yang biasanya membekas
sampai anak beranjak dewasa
Apa yang bias dilakukan orang tua ketika menghadapi kejadian tersebut
terhadap anaknya ?
ü
Membawa anak
ke lokasi yang tenang dan membiarkan ia bercerita dengan bahasanya sendiri.
ü
Dengarkan apa
yang ia katakan dan tidak bereaksi secara berlebihan.
ü
Berbarengan
dengan itu tekankan kepada anak bahwa kejadian tersebut bukan salah dia.
ü
Setelah itu,
cari bantuan medis atau lembaga social pelayanan anak korban pemerkosaaan serta
menghubungi pihak polisi.
Semua langkah itu dimaksudkan untuk mengembalikan rasa percaya diri
anak, agar anak tahu bahwa masih banyak orang yang peduli terhadapnya.
Dari kesemua kejadian tersebut, dapat membuat tingkah laku anak berubah
seperti ;
1.
Sering mengeluh sakit
2.
Member
penjelasan yang tidak masuk akal terhadap luka di tubuhnya.
3.
Sikap tidak
bersahabat terhadap orang lain
4.
Sulit
berbicara atau tiba-tiba menjadi pendiam
5.
Sering
menyendiri atau tidak bermain seperti biasanya
6.
Takut terhadap orang dewasa
7.
Sering melamun sendirian
8.
Takut bersenthan
dengan orang lain seperti bersalaman atau bergandengan.
9.
Kadang-kadang timbul ekspresi
ketakutan
10.
Tidur tidak nyenyak
11.
Dan lain sebgainya
Tidak ada komentar:
Posting Komentar