SATU tidak berobsesi menjadi nomor satu dan terdepan, tetapi SATU adalah salah satu lembaga yang menjadi alternatif untuk anak-anak memiliki ruang untuk berkembang

Sabtu, 23 Februari 2013

Rokok Menjamah Kehidupan Masa Depan Bangsa


Created By : Muhammad Mujib Faozi

Banyak anak dibawah umur saat ini sudah mengenal rokok bahkan ada yang sudah menjadi pecandu rokok. Tak dapat dipungkiri hal ini sudah menjadi wajah dari masa depan Indonesia. Salah satu penyebabnya adalah dari orang tua, tatkala orang tua yaitu bapaknya juga menjadi pecandu rokok, secara tidak langsung anak akan melihat apa yang dilakukan orang tuanya apalagi sering disuruh membelikan rokok diwarung. Berawal dari penasaran, coba-coba terus akhirnya menikmati dan menjadi perokok, meski belum aktif.
Maka disini orang tua jangan menyalahkan pihak anak yang mengenal bahkan mencoba rokok. Akan tetapi orang tua dan lingkungannya merupakan faktor yang mempengaruhi penyebab anak menjadi perokok dikarenakan melihat mereka merokok. Sehingga secara tidak langsung anak akan meniru/mencontoh mereka, bahkan akhirnya anak-anak akan menjadi pecandu rokok. Dengan melihat atau mencontoh orang lain apalagi orang terdekat yang menjadi pecandu rokok tentunya sangat berpengaruh terhadap anak-anak sehingga mereka akan tertarik untuk menirunya. Berawal dari rasa penasaran, tertarik, dan ingin mencoba hingga akhirnya menjadi ketagihan untuk mengulanginya. Kurangnya perhatian orang tua terhadap anak akan nasehat, teguran ataupun larangan membuat anak semakin merasa bebas untuk melakukannya. Apalagi anak tidak mempunyai pengetahuan akan bahaya dari pecandu rokok bagi diri maupun orang lain.
Indonesia merupakan daerah tropis dengan SDM yang melimpah sehingga sebagian wilayah Indonesia merupakan penghasil tembakau yang banyak menanam tembakau dari sekedar untuk dikonsumsi sendiri ataupun di jual kembali. Begitu mudahnya akses untuk mendapatkan bahan rokok, sehingga peredarannya semakin luas. Hal ini disebabkan masih banyaknya kawasan Indonesia yang mudah menjajakan tembakau, bahan baku rokok. Tidak hanya itu saja adanya pabrik-pabrik rokok yang memproduksi rokok secara besar-besaran semakin menambah kemudahan orang untuk mendapatkan rokok dimanapun, dari yang dijual eceran sampai yang partai besar.

Adanya anggapan bahwa dengan merokok itu dapat mengurangi rasa tertekan, membuat konsentrasi, dapat merasa tenang, merasa keren dan jantan. Padahal tanpa mereka sadari bahwa ternyata dalam batang rokok itu mengandung berbagai zat yang berbahaya dan dapat merugikan kesehatan tubuh bagi si perokok maupun yang menghirup asap rokok tersebut. Yang mereka rasakan hanya ketika merokok adalah dapat mengurangi beban pikiran tanpa menghiraukan dampak dan resikonya.
Besarnya kenaikan angka perokok anak dari tahun ketahun yang begitu meningkat pesat menunjukkan bahwa dinegara ini tidak ada batasan usia bagi prokok dan juga begitu mudahnya akses mendapatkan rokok dikalangan anak-anak. Serta mencontoh orang-orang terdekat yang banyak merokok. Hal inilah yang menyebabkan sulitnya anak untuk dilarang merokok. 
Dari hasil survey sekitar 70 juta anak Indonesia sudah menjadi pecandu rokok. Berarti sebagian generasi penerus di negeri ini telah mengenal bahkan menjadi perokok aktif. Sampai-sampai ada fatwa MUI mengenai haramnya rokok namun tidak memiliki kekuatan hukum. Justru adanya fatwa tersebut bukannya menjadi solusi kongkret untuk mencegah orang khususnya anak untuk tidak merokok bahkan fatwa MUI mendapat tentangan dari berbagai pihak, termasuk petani tembakau.
Sedangkan dikalangan remaja, 93, 9 % remaja sudah menjadi perokok dikarenakan dengan melihat iklan rokok baik ditelevisi, acara-acara remaja, dan olah raga. Berarti tidak hanya anak saja yang terserang oleh pecandu rokok tapi ternyata remajanya juga.
Dari uraian diatas tentunya dapat disampaikan beberapa solusi kongkret terkait peredaran rokok/bahan rokok antara lain:
1.      Orang tua jangan menyuruh putranya yang masih anak untuk membelikan rokok
2.      Orang tua atau orang dewasa yang merokok jangan merokok didepan anak-anak atau ditempat sembarangan
3.      Toko/warung yang menjual rokok tidak melayani pembeli rokok yang masih anak-anak.
4.      Iklan rokok di media cetak, elektronik, sebaiknya diluar jam anak-anak saat menyaksikan.
5.      Sosialisasi tentang bahaya merokok dikalangan pelajar.
6.      Untuk pemerintah maupun swasta berbenah, mempersiapkan diri untuk mencarikan solusi terbaik dalam mengatasi hal terkait rokok, sektor rokok dialihkan sektor lain yang tentunya dapat diterima semua pihak.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar