SATU tidak berobsesi menjadi nomor satu dan terdepan, tetapi SATU adalah salah satu lembaga yang menjadi alternatif untuk anak-anak memiliki ruang untuk berkembang

Sabtu, 23 Februari 2013

Anak Jalanan, ada apa dengan mereka?.....


Created By : @vonieoktaviani

Berita tentang anak jalanan seolah-olah tidak ada henti-hentinya. Derita dan penyiksaan yang mereka alami terkadang membuat kita sedih. Mereka harus berjuang di jalanan yang kejam dengan hiruk pikuk yang sebenarnya tidak pantas bagi mereka demi untuk mendapatkan sejumlah uang agar mereka bisa bertahan hidup dan agar mereka tidak merasa kelaparan. Menjajagan makanan, membersihkan bus umum atau juga mengamen dari satu bus ke bus yang lain, dari satu tempat ke tempat yang lain yang sebenarnya tidaklah baik bagi mereka. Aktivitas mereka pasti memiliki resiko tinggi, namun apa adaya barangkali itu yang dapat mereka lakukan. Keuntungan yang mereka terima tidak seberapa, namun itu harus mereka lakukan agar mereka tetap hidup di kota yang keras ini.
Aktivitas mereka yang kian padat untuk turun ke jalanan membuat pendidikan pun terbengkalai ditambah lagi dengan biaya pendidikan yang kian meningkat. Makin sulit memang, jangankan untuk memikirkan sekolah, untuk hidup pun sulit. Sebagian dari mereka adalah anak-anak yang broken home dan anak-anak yang putus sekolah akibat dipaksa oleh orang tuanya untuk mencari uang demi memenuhi kebutuhan keluarga. Tak terbayangkan bagaimana kerasnya hidup dijalanan, namun hal ini harus mereka lalui. Memang dilihat dari kerja keras mereka mencari uang untuk menghidupi keluarganya, sepintas kita beranggapan bahwa ia mengabdi kepada orang tuanya, namun jika berpikir panjang kita akan kasihan dengan kehidupannya masa depannya. Tak ada pendidikan berarti tak ada masa depan yang jelas. Mereka adalah penerus bangsa mau jadi apa mereka kelak, hanya menjadi budak. Mereka senang berfikir bahwa orang yang tamat SMA saja sulit untuk mencari pekerjaan yang layak, apalagi mereka yang tidak lulus SD atau bahkan tidak pernah bersekola. Sampai akhirnya mereka memutuskan untuk tetap hidup dengan hiruk pikuknya jalanan sampai mereka dewasa nanti atau bahkan sampai mereka tua dan memiliki keturunan. Sungguh tidak dapat dibayangkan kehidupan masa depan mereka.
Orang tua yang seharusnya melindungi mereka, memberikan kasih saying, memberi rasa nyaman, pendidikan, malah menjadikan mereka sebagai tulang punggung keluarga. Sedangkan orang tua mereka hanya berleha-leha duduk manis berteduh di bawah pohon di pinggir jalan dan kondisi seperti itu bisa kita lihat disetiap jalan atau perempatan. Sebagian dari anak jalanan memiliki orang tua yang masih sehat dan muda yang bisa mencari nafkah dengan normal. Namun para orang tua mereka memanfaatkan mereka untuk mengamen di pinggir jalan dengan alasan bahwa anak-anak lebih mendapat belas kasihan ketimbang orangtua yang mengamen. Kenyataannya memang benar adanya, orangtua tidak memiliki pekerjaan dan keterampilan agar bisa hidup lebih baik lagi. Peraturan pemerintah mengenai larangan memberikan uang kepada pengamen pun dilanggar oleh sebagian banyak orang di Indonesia ini, karena orang Indonesia sangat baik. Maka yang terjadi, semakin bertambahnya hari semakin bertambah pula jumlah anak jalanan di negeri ini. Bahkan mengamen dan mengemis adalah suatu pekerjaan yang menjadi favorit mereka.
Terbesit dalam benak kita, siapakah sebenarnya yang bersalah dalam hal ini, anak jalanan kah?..... ataupun orangtua anak jalanan tersebut?.... Masyarakat kah?.... pemerintah kan?... atau bahkan kita sendiri?... akh ini perlu waktu panjang, hingga kita memutuskan apa yang bisa kita lakukan untuk masa depan anak bangsa. Tetap semangat, yang hanya bisa dilakukan lakukan saja. Tak perlu berkomentar siapa yang salah.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar