Created By : @vonieoktaviani
Berita tentang anak jalanan seolah-olah
tidak ada henti-hentinya. Derita dan penyiksaan yang mereka alami terkadang
membuat kita sedih. Mereka harus berjuang di jalanan yang kejam dengan hiruk
pikuk yang sebenarnya tidak pantas bagi mereka demi untuk mendapatkan sejumlah
uang agar mereka bisa bertahan hidup dan agar mereka tidak merasa kelaparan. Menjajagan
makanan, membersihkan bus umum atau juga mengamen dari satu bus ke bus yang
lain, dari satu tempat ke tempat yang lain yang sebenarnya tidaklah baik bagi
mereka. Aktivitas mereka pasti memiliki resiko tinggi, namun apa adaya barangkali
itu yang dapat mereka lakukan. Keuntungan yang mereka terima tidak seberapa,
namun itu harus mereka lakukan agar mereka tetap hidup di kota yang keras ini.
Aktivitas
mereka yang kian padat untuk turun ke jalanan membuat pendidikan pun
terbengkalai ditambah lagi dengan biaya pendidikan yang kian meningkat. Makin
sulit memang, jangankan untuk memikirkan sekolah, untuk hidup pun sulit. Sebagian dari mereka
adalah anak-anak yang broken home dan
anak-anak yang putus sekolah akibat dipaksa oleh orang tuanya untuk mencari uang demi memenuhi
kebutuhan keluarga. Tak terbayangkan bagaimana kerasnya hidup dijalanan,
namun hal ini harus mereka lalui. Memang dilihat dari kerja keras
mereka mencari uang untuk menghidupi keluarganya, sepintas kita beranggapan bahwa ia
mengabdi kepada orang tuanya, namun jika berpikir panjang kita akan kasihan
dengan kehidupannya masa depannya. Tak ada pendidikan berarti tak
ada masa depan yang jelas. Mereka adalah penerus bangsa mau jadi apa mereka
kelak, hanya menjadi budak. Mereka senang berfikir bahwa orang yang tamat SMA
saja sulit untuk mencari pekerjaan yang layak, apalagi mereka yang
tidak lulus SD atau bahkan tidak pernah bersekola.
Sampai akhirnya mereka memutuskan untuk tetap hidup dengan hiruk pikuknya
jalanan sampai mereka dewasa nanti atau bahkan sampai mereka tua dan memiliki
keturunan. Sungguh tidak dapat dibayangkan kehidupan masa depan mereka.
Orang tua yang
seharusnya melindungi mereka, memberikan kasih saying, memberi rasa nyaman,
pendidikan, malah menjadikan mereka sebagai tulang punggung keluarga. Sedangkan
orang tua mereka hanya berleha-leha duduk manis berteduh di bawah pohon di
pinggir jalan dan kondisi seperti itu bisa kita lihat disetiap jalan atau
perempatan.
Sebagian dari anak jalanan memiliki orang tua yang masih sehat dan muda yang
bisa mencari nafkah dengan normal. Namun para orang tua
mereka memanfaatkan mereka untuk mengamen di pinggir jalan dengan alasan bahwa
anak-anak lebih mendapat belas kasihan ketimbang orangtua yang mengamen. Kenyataannya memang benar adanya,
orangtua tidak memiliki pekerjaan dan keterampilan agar bisa hidup lebih baik
lagi. Peraturan
pemerintah mengenai larangan memberikan uang kepada pengamen pun
dilanggar oleh sebagian banyak orang di Indonesia ini,
karena orang Indonesia sangat baik. Maka yang terjadi, semakin bertambahnya hari semakin bertambah
pula jumlah anak jalanan di negeri ini. Bahkan mengamen dan
mengemis adalah suatu pekerjaan yang menjadi favorit mereka.
Terbesit dalam benak
kita, siapakah sebenarnya yang bersalah dalam hal ini,
anak
jalanan kah?..... ataupun orangtua anak jalanan tersebut?.... Masyarakat
kah?.... pemerintah
kan?... atau bahkan kita sendiri?... akh ini perlu waktu panjang, hingga kita
memutuskan apa yang bisa kita lakukan untuk masa depan anak bangsa. Tetap
semangat, yang hanya bisa dilakukan lakukan saja. Tak perlu berkomentar siapa
yang salah.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar